Pusat Agrobisnis Indonesia
Email : Sandi :
Gabung GRATIS di Facebook Facebook dan Twitter Twitter untuk mendapatkan update-update terbaru
http://tokoagro.comhttp://pupukgdm.com
Aneka Produk Olahan Sabut Kelapa Diminati Manca
Aneka Produk Olahan Sabut Kelapa Diminati Manca
Share
2012-03-30 11:18:35 | dibaca 1520 kali

Kembangkan Agribisnis olahan sabut kelapa sangat menguntungkan. Selain produk konvensional, produk-produk olahan berbahan baku kulit buah nyiur ini sangat dibutuhkan dunia pertambangan. Khusus permintaan dari pertambangan ini, ordernya selalu dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Jadi, jika bisa memenuhi standar kwalitas yang mereka butuhkan maka kelangsungan suplai akan berlangsung terus.

Keset, Sapu, dan beberapa produk lainnya sudah sangat biasa.  Tapi tahukah anda produk-produk berikut ini; Cocopot, Cocomatras, Coconet, sabutret, juga Cocopet?. Nama-nama aneh itu ternyata juga masih turunan produk berbahan baku sabut kelapa. Dan peluang bisnisnya saat ini semakin berkembang luas.

permintaan coconet ke pertambangan tinggi

Darda (38), lewat usahanya yang diberi nama AKAS, ternyata telah mampu mengangkat ‘derajat’  sabut kelapa tersebut. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya hasil kerajinan  produknya, yang banyak diminati berbagai kalangan, baik lokal ataupun internasional (manca negara).

“Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang dan perjuangan yang keras, berbagai kerajinan dari sabut kelapa ini banyak sekali diminati, terutama dari mancanegara,” begitu aku Darda, pengusaha kerajianan sabut kelapa suskes, asal Desa Rantewringin, Buluspesantren, Kebumen, Jawa Tengah, yang berhasil menembus pasar eksport.

Untuk bisa meraih kesuksesan seperti yang diraih Darda, memerlukan proses panjang dan perjuangan keras. Jadi tak semudah membalikkan telapak tangan begitu saja. Jatuh bangun, hingga nyaris bangkrut, pernah dilakoni Darda.

Namun karena keyakinan dan keuletannya, akhirnya, kini berbuah kesuksesan. Banyak yang mencoba meniru langkah Darda ini. Namun banyak dari mereka yang akhirnya terhenti di tengah jalan, atau rontok di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

“Kuncinya sebenarnya adalah kwalitas produk yang kita hasilkan. Dalam hal ini, bisa nggak kita memenuhi standar kwalitas yang dimaui pasar,” ujar Darda pada Trans Agro.

Kalau kwalitas produk bisa memenuhi standar yang diinginkan, tentu dengan sendirinya, masalah pemasaran tidak akan menjadi kendala. Bahkan, konsumen yang mendatanginya sendiri. Jadi masalah pemasaran, diakui Darda dirinya tak begitu pusing. Malahan, prospek ke depan, peluang berbagai produk kerajinan dari sabut kelapa ini terbuka lebar.

Darda mencontohklan. Dari berbagai produk yang dihasilkannya, yang terlihat paling sederhana adalah keset. Tapi jangan dikira, meksipun hanya keset, jika benar-benar berkwalitas bagus, juga akan diminati.

“Untuk pasaran lokal saja, tiap minggunya, banyak pedagang luar kota yang kulakan keset disini. Harganya bervariasi. Dari yang paling murah, Rp 3.500,- hingga Rp 20.000,-. Itu tergantung besar kecilnya serta kwalitas produknya,” kata Darda, sambil menmbahkan, bahwa keset produknya itu dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Solo, bahkan luar Jawa.

Meurut Darda, khusus keset ini, tak bisa dipastikan, berapa sebulan yang bisa diserap pasar lokal. Karena menurutnya, permintaan juga tidak ad angka yang pasti. Jika banyak pesanan diluar, maka para pedagang akan mengambil juga dalam jumlah banyak. Yang jelas, harga yang ditawarkan tetap sama. Malahan para pedagang mengaku, karena sudah Cocok dengan kwalitas produknya, mereka tak mau mengambil dari perajain lainnya, meski di daerah Rantewringin juga ada perajin lainnya.

Ceruk Pasar Pertambangan Menjanjikan

Selain keset  Darda juga memproduksi Coconet. Yakni, semacam jaring besar dengan ukuran tertentu, dimana jarak jaringnya, antara 3-5 cm. Coconet ini juga terbuat dari sabut kelapa.

“Coconet ini dibuat dari tali yang terbuat dari sabut kelapa, yang dianyam sedemikian rupa, membentuk seperti jaring besar. Ini berfungsi untuk pengganti bronjong kawat, sebagai penahan erosi,” jelas suami dari Siswati ini.

Produk Coconet ini sendiri, sebenarnya sudah dikenal terlebih dahulu di India dan Pakistan. Ceritanya, sekitar  2 tahun lalu, ada seorang  utusan dari PT Freeport di Papua, yang datang khusus ke tempat Darda. Mereka membawa contoh Coconet asal India tersebut.

“Mereka tanya ke saya. Bisa nggak, membuat Coconet yang berkwalitas seperti ini. Saya bilang bisa.  Maka sayapun mencoba membuatnya. Ternyata pihak Freeport merasa terkesan dengan Coconet buatan saya,” kataDarda pada Trans Agro.

Karena merasa puas, maka semenjak  itu, PT Freeport secara rutin memesan Coconet pada Darda. Di Papua sana, Coconet difungsikan sebagai penahan tanggul agar tak terjadi erosi. Asal tahu saja, PT Freeport bergerak dipertambangan emas. Maka keberadaan Coconet sangat diperlukan untuk menunjang aktifitas mereka ketika menambang.

“Keunggulan Coconet, meski terkena hujan atau panas kapanpun, tidak akan rusak. Maksudnya, bisa menyatu dengan tanah langsung. Jadi tidak menganggu proses penambangan mereka. Tapi kalau bronjong kawat, jika sudah lama, akan rusak. Jadi perlu dibersihkan lagi dari sisa-sisa bronjong yang rusak jika mau menambang, atau aktifitas lainnya,” jelas Darda tentang manfaat Coconetnya.

Hal itu dibenarkan oleh Sujatmiko,  dari  Subdit Lingkungan Pertambangan Direktorat Tambang Mineral dan Batu Bara Departemen  Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM), Jakarta. “Memang kalau menggunakan bahan dari sabut kelapa akan lebih ramah lingkungan,”  jelas birokrat yang bertanggung jawab langsung terhadap persoalan lingkungan di kawasan pertambangan ini. “Dibandingkan dengan kawat, bahan dari sabut kelapa akan bisa menyatu dengan struktur tanah langsung. Jadi tidak akan mengganggu lingkungan. Selain itu, menggunakan sabut kelapa juga akan lebih efesien,” sambungnya di sela-sela kesibukan sebagai pemateri Mine Closure di Hotel  Garuda Yogyakarta.

“Selain itu, sisa sabut kelapa yang sudah lapuk akan menjadi unsur hara bagi tanah. Jadi baik struktur maupun tekstur tanah akan terbaiki lagi.” Peluangnya masih terbuka lebar. “Kita ini kan punya banyak pertambangan. Dan rata-rata mereka ini membutuhkan serabut kelapa dalam jumlah yang tidak sedikit,” Sujatmiko pada Trans Agro.

Tidak mengherankan jika PT. Freeport menjadi langganan Darda. Dalam sebulan, PT Freeport selalu memesan 250 rol, dimana satu rol panjangnya 60 meter, dengan harga jual Rp 12.000,-. Bisa dihitung, berapa pemasukan Darda dari Coconet pesanan PT Freeport saja.

Bahkan, selain Freeport, saat ini sedang ada pesanan Coconet dari sebuah perusahan pertambangan yang berlokasi di daerah Sumatera. Mereka juga tertarik dengan produk Coconet Darda. Perusahaan dari Sumatera itu memesan untuk tahap pertama 1850 rol Coconet, dan kini sedang dalam proses pembuatan.

Pihak mancanegara juga tertarik dengan Coconet buatan Darda. Mereka juga sedang mengadakan lobi dengan Darda, namun hingga kini belum ada deal. Menurut Darda, di luar negeri, bahan baku pembuat Coconet, dalam hal ini sabut kelapa sangat jarang. Tak heran, jika mereka lari ke Indonesia. “Di negeri ini yang namanya kelapa kan seabrek-abrek.” Dan yang ketiban untung adalah Darda.

Produk yang lain adalah Cocopet, untuk campuran media tanam.    Selain pasar lokal, Kebumen,, Darda juga melayani pesanan dari luar pulau Jawa, yakni Sumatera. Di Sumatera, Cocopet dipergunakan sebagai pelengkap media tanam di sektor perkebunan sawit,.

“Saat ini ada pesanan 1443 meter kubik Cocopet dari sebuah perkebunan di Sumatera. Ini baru dalam tahap proses produksi dan  packing . Harga jual untuk Cocopet sendiri Rp 500,- perkilonya. Jadi jika ada pesanan 1443 meter kubik, tinggal mengalikan saja.

Dari 3 produk itu saja, sudah kelihatan, berapa omset Darda perbulan. Meski dia tak mengaku berapa keuntungannya, namun omsetnya di angka 250 juta perbulannya. Dengan dibantu 167 karyawan, baik itu karyawan tetap maupun sistim borongan, Darda telah berhasil mengangkat nilai kerajinan sabut kelapa, terutama dari sisi ekonomis.

Menurut Darda, peluang bisnis kerajinan dari sabut kelapa masih terbuka lebar. Soal pemasaran tak ada masalah. Dari penuturannya, sebenarnya, ada pesanan dari luar negeri, yakni Cocofiber atau serat kelapa (sabut kelapa yang sudah halus) sebanyak 200 ton perbulan.

“Ini juga baru tahap penjajakan, kira-kira sanggup nggak memenuhi pesanan sebanyak itu. Itu pesanan rutin. Padahal, untuk kebutuhan lokal saja, paling tidak perbulan butuh 30 ton. Kalau nanti itu berjalan, se Kebumen bisa membuka usaha ini. Jelas ini menyerap banyak tenaga kerja,” kelakarnya.

Untuk bisa berusaha seperti Darda, memang diperlukan modal yang tidak sedikit. Yang paling penting dari usahanya itu adalah adanya beberapa peralatan yang menunjang kinerja, seperti mesin pengurai sabut kelapa, mesin pengayak Cocopet, juga mesin press sabut kelapa. Paling tidak, diperlukan modal sekiatr 200 juta. Itu baru dari mesinnya.

 

Bisnis Mesin Pengurai Juga menggiurkan

“Saya juga memproduksi mesin pengurai ini. Modelnya perpaket. Satu paket sekitar 70 juta. Ini termasuk pelatihannya sekaligus. Banyak kok yang sudah menggunakannya, seperti NTT, Sleman, Batang, juga Sumatera Selatan,” kata lelaki lulusan STM ini.

Dikatakan Darda, yang paling menentukan justru dari mesin pengurai sabut kelapa ini. Karena kalau tidak ada pengetahuan, atau salah sedikit saja maka sabut yang dihasilkan akan bermutu rendah. Dan itu tentu berakibat pada hasil produk, atau kwalitas jelas dibawah standar.

Peluang kedepan masih terbuka lebar. Dan Darda membuka pintu diri, bagi siapa saja yang ingin belajar lebih mendalam soal ilmu sabut kelapa . Dirinya siap mengajarinya.

Karena keberhasilannya, beberapa waktu lalu, Darda terpilih mengikuti pelatihan yang diadakan Departemen Perindustrian di Bogor, tentang sertifikasi ISO 9001:2010. Asal tahu saja, ISO adalah standar mutu suatu produk yang diakui internasional. Untuk bisa meraih ISO, tentu bukan perkara mudah. Karena yang diutamakan adalah kwalitas.

“Kategori ISO itu, antara lain, produk yang dihasilkan  unggulan, bahan bakunya multi fungsi, juga menyerap banyak tenaga kerja,” jelasnya soal kriteria mendapatkan ISO.

Darda tak keberatan menyebutkan apa kiat dan kunci kesuksesannya. Menurutnya, sebagai seorang pengrajin yang menghasilkan dan menjual produk, yang paling utama adalah menjaga kwalitas. Kemudian, harus tahu akan trend pasar, atau peka terhadap permintaan pasar, serta perhatikan soal desain. Juga harus berpikiran kreatif, serta selalu memunculkan produk baru.

“Kita harus peka terhadap permintaan pasar, serta kwalitas yang diinginkan. Karena itu, kita juga harus tahu perkembangan , bisa lewat internet atau lainnya. Itulah mengapa, saya selalu bisa bertahan dan bisa berkembang seperti sekarag ini,’ ujar Darda pada Trans Agro.

Kini, Darda tengah mengembangkan produk barunya, yakni sabutret, atau serat sabut berkaret. Sabutret ini digunakan untuk springbed ataupun jok mobil. Produk barunya itu juga sudah dilirik manca negara, sepertri Jepang dan Perancis (penulis: sujono): Sekali Tetas, Langsung Untung

(Artikel ini terselenggara atas kerjasama antara redaksi www.pusatagro.com dengan redaksi tabloid cetak Trans Agro. Untuk mendapatkan berita-berita lengkap mengenai peluang agribisnis aplikatif dan nomor kontak narasumbernya, silahkan dapatkan bundelnya dengan menghubungi nomor 0274-9272270 call / smsCek daftar isi)

Komentar

Sewu Jabon
ini di kebumen nyak? saya pernah ketemu salah satu birokrat ESDM, kebtuhan salah satup produknya di pertambangan sangat tinggi 

May 01, 2012 - 06:06

Tulis komentar anda di sini..
Submit
Daftar Member Gratis
Jumlah post : 1616
Jumlah member : 1585
Facebook
Twitter
News
Beta Testing PusatAgro.com
2012-04-29 17:44:51

Per tanggal 01-12-2011 kami meluncurkan website PusatAgro.com (Beta)

Kami akan mengecek system kami, jika ada bug (error) yang dijumpai silakan kabari kami.



 

Copyright © 2011 PusatAgro.com, All Rights Reserved.