Pusat Agrobisnis Indonesia
Email : Sandi :
Gabung GRATIS di Facebook Facebook dan Twitter Twitter untuk mendapatkan update-update terbaru
http://tokoagro.comhttp://pupukgdm.com
Inspirasi Budidaya Jenitri
Inspirasi Budidaya Jenitri
Share
2012-05-13 01:09:10 | dibaca 2508 kali

Tanamlah Pohon Siwa, Akan Kita Dapatkan Uangnya.


Tahukah Anda Jenitri? Mungkin diantara kita banyak yang tidak akrab dengan buah ini. Tapi ternyata, buah yang bernama lain Mata Siwa ini merupakan komoditas ekspor unggulan. Negara utama yang menyerapnya adalah negara-negara hindi, yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Karena apa? Jenitri erat terkait dengan ritual-ritual upacara mereka. Kebutuhan mereka sangat besar akan buah ini.

 

Tanaman Jenitri (Elaeocarpus Ganitrus), termasuk tanaman keras, yang juga dikenal sebagai tanaman pelindung. Pada Jenitri, yang dimanfaatkan adalah biji buahnya. Biji buah Jenitri ternyata sudah diekspor ke berbagai negara, terutama India. Indonesia disebut-sebut sebagai pengekspor terbesar Jenitri, yang mencapai 70% dari kebutuhan Jenitri di dunia.

             “Di Jawa Tengah, sentra penghasil Jenitri itu antara lain Cilacap dan Kebumen. Bahkan di daerah kami, tanaman Jenitri sudah dibudidayakan sejak dulu, sejak nenek moyang kami,” ujar Achmad Nur Cholis (45), salah satu petani Jenitri sukses asal Condongcampur, Sruweng, Kebumen pada Trans Agro.

            Di Kebumen sendiri, sentra Jenitri ada di sekitar wilayah Sruweng, seperti di desa  Condongcampur, Penusupan, serta desa sekitarnya. Disinilah, ribuan hektar lahan ditanami pohon Jenitri. Dulu, tanaman ini tak begitu dilirik. Tapi seiring perkembangan jaman, melihat nilai ekonomis yang didapat, menjadikan banyak orang beramai-ramai membudidayakannya.

            Menurut Nur, demikian lelaki ini biasa disapa, yang dimanfaatkan dari tanaman Jenitri adalah buahnya, dimana setelah direbus dan dikupas akan menghasilkan biji. Nah, bijinya inilah yang laku dijual dan dieksport ke luar negeri.

            “Kebutuhan akan biji Jenitri dari tahun ke tahun semakin meningkat. Buktinya, permintaan selalu bertambah. Dan berapapun hasil panenan kami, selalu terjual habis. Inilah yang menjadikan kami lebih semangat, karena peluang ke depan sangat menjanjikan,” kata Nur yakin.

            Uniknya, biji Jenitri ini dijual perbuah. Semakin kecil biji Jenitri, maka harga jualnya juga semakin tinggi. Menurut Nur, jenis biji Jenitri ini sendiri terdiri dari berbagai ukuran. Tiap-tiap ukuran itu, mempunyai nilai yang berbeda.

            Dari penuturan Nur, biji Jenitri yang super berdiameter 6 mm. Untuk biji Jenitri kelas super ini, harga pasarannya mencapai Rp 150,- perbuah. Untuk kelas bawahnya, yakni 6,5 mm, harganya sekitar Rp 135 rupiah perbiji. Begitulah terus menerus, setiap selisih 0,5 mm, harganya juga berbeda dan lebih murah.

            Sementara untuk kelas paling bawah, dengan ukuran diameter 11 mm, harga pasarannya Rp 6 rupiah perbiji. Nah, ukuran setelah itu, yakni 11,5  mm ke atas, atau yang semakin besar, dijual dengan cara kiloan, dimana satu kg mencapai Rp 6 ribu

            “Untuk yang dijual kiloan ini, atau yang tidak lolos sortir ini, kami menyebutnya gronong. Ada yang gronong halus dan kasar. Kalau yang halus, perkilonya Rp 6 ribu. Nah, kalau yang gronong kasar, harganya cuma Rp 2.500,- perkilo,” jelas ayah 3 anak ini pada Trans Agro.

            Memang, jika dilihat nilai perbijinya, terlalu kecil. Tapi jika hal itu dikalikan dengan hasil panen, tentu hasilnya sangat menjanjikan. Dalam satu pohon Jenitri usia 2 tahun, dan panen untuk pertama kalinya, bisa menghasilkan uang antara 300-500 ribu rupiah.

            Jumlah itu akan semakin meningkat, jika memasuki panen selanjutnya. Begitu terus menerus. Semakin besar atau subur tanaman jenitri, maka secara otomatis, akan menghasilkan panen yang lebih besar.

            Jika satu pohon bisa menghasilkan Rp 500 ribu, maka tinggal mengalikan, berapa pohon yang dipunyai. Maka, hasilnya bisa langsung dihitung setiap kali panennya. Menurut Nur, banyak sekali petani Jenitri di daerah Sruweng yang bisa meningkat ekonominya setelah membudidayakan Jenitri.

            Soal pemasaran, para petani tak perlu khawatir. Sebelum panen tiba, sudah banyak pedagang yang memesannya. Bahkan, tak jarang para pedagang (pengepul) yang rela membayar duluan, padahal belum panen. Ini menandakan, kalau bisnis biji Jenitri jelas menguntungkan.

            Bahkan, dari penuturan Nur, memasuki masa panen, juragan besar dari India juga menyempatkan diri datang ke lokasi panen untuk memantau. Dan bisa dihitung, jika sekali panen, ribuan, bahkan jutaan biji Jenitri dieksport ke India, maka perputaran uang bisa mencapai milyaran rupiah.

            “Dalam satu pohon,  biji yang dihasilkan tidak mungkin kelas super semua. Pasti ada yang besar, sedang atau kecil. Tapi kalau dihitung secara keseluruhan, hasilnya ya antara 300-500 ribu itu. Itu untuk panen pertama,” papar suami dari Sri Rejeki ini.

            Seperti Nur ini. Dirinya dulu awal-awalnya hanya mempunyai 150 an pohon Jenitri. Dari itu saja, puluhan juta pasti di tangan jika memasuki masa panen. Melihat peluang yang menjanjikan itulah, dirinya mulai mengembangkannya. Kini di lahan sawahnya, selain ditanami padi, juga ditanami ratusan pohon Jenitri.

            Hal yang sama juga diikuti petani lainnya. Bahkan, budidaya Jenitri mulai juga diikuti petani lainnya. Tak hanya wilayah Sruweng saja, yang selama ini dikenal sebagai sentranya Jenitri. Tanaman Jenitri bisa ditanam di mana saja, baik dataran tinggi ataupun rendah. Bagi yang tidak mempunyai lahan, tanaman Jenitri bisa juga ditanam didalam pot.

            “Contoh gampang saja. Dalam 100 ubin lahan (1400 meter persegi), bisa ditanami 100 pohon. Dalam waktu 2 tahun pertama, bisa langsung panen. Perpohon katakanlah bisa menghasilkan 400 ribu. Jadi sekali panen bisa menghasilkan 40 juta. Untuk panen selanjutnya jelas lebih dari itu. Lebih untung jika dibandingkan menanam lainnya,” jelas Nur mencontohkan keuntungan budidaya Jenitri.(Jhon)

 

Kerat Saja Batangnya, Buahnya Akan Mengecil

Memang sangat unik. Jika biasanya menanam pohon itu mengharapkan buah yang dihasilkan besar-besar, maka pada Jenitri malah sebaliknya. Maka para petani akan berusaha, agar buah Jenitri yang dihasilkan sekecil mungkin.

            Untuk menyiasatinya,  menurut Nur, dirinya juga petani lainnya akan melakukan penggeretan, yakni pada pohon Jenitri dikerat. “Tapi ingat, ngeratnya pas ketika tanaman berbunga, bukan saat yang lain.” Dengan cara ini, diharapkan, suplai makanan akan terganggu, hingga tidak sampai ke bunga.

            Maka secara otomatis, pertumbuhan bunga tidak maksimal, karena terbatasnya pasokan makanan. “Dengan begitu buah akan kecil-kecil, itu pasti.”

            Dalam setahun, panen Jenitri hanya sekali. Dalam waktu 4 bulan setelah berbunga, maka buah Jenitri bisa langsung dipanen. Buah Jenitri dalam keadaan tua, berwarna hijau tua. Masa-masa berbunga, biasanya pada awal musim hujan, sekitar bulan Januari. Dan sekitar April-Mei, biasanya Jenitri akan dipanen.

            “Masa panen pokoknya hanya setahun sekali, yakni pada bulan-bulan itu. Ada juga panen susulan, yakni setelah masa panen pertama. Tapi hasilnya tidak maksimal, hanya 50% nya saja,” ujar mantan kepala Desa Condongcampur 2 periode ini pada Trans Agro.

            Pengolahan buah Jenitri pada masa panen, hingga bisa menghasilkan bijinya juga sangat mudah. Setelah dipanen, maka buah-buah Jenitri tadi bisa direbus.  Direbus agar kulit menjadi lunak, untuk selanjutnya dikupas, serta diambil biji-bijinya. Nah, biji-biji tadi, selanjutnya dijemur hingga kering. Paling tidak perlu waktu 2 hari penjemuran agar benar-benar kering.

            Dan tahap selanjutnya, mengelompokkan biji-biji tadi sesuai kelas-kelasnya atau besar kecilnya. Nah, biji-biji kering tadi sudah siap dijual. Ini untuk memudahkan dalam penghitungan, juga penjualan. Dalam satu kilo , terdapat ribuan biji kering Jenitri. Jika perbutirnya seharga Rp 150,-, maka tinggal mengalikan, berapa biji Jenitri yang dihasilkan.

            Membudidayakan tanaman Jenitri sangatlah mudah. Tidak diperlukan perawatan secara khusus. Untuk menanam Jenitri, maka yang dibutuhkan bibitannya. Untuk ini, Nur juga menyediakannya. Karena kebutuhan bibit Jenitri semakin menjengkelkan. “Artinya semakin banyak permintaan bibit.” Solusinya, perbanyakan yang paling cepat dan massal menggunakan cara stek, atau okulasi.

            “Secara umum perawatannya tidak berbeda dengan perawatan tanaman keras lainnya, kok!”

             Sebagai petani yang sukses dengan budidaya Jenitrinya, Nurpun tak keberatan membagi ilmunya itu. Selain menyediakan bibitnya, Nur juga bersedia membeli kembali hasil panen biji Jenitri, jika ada petani yang membeli bibitan darinya. Istilahnya petani plasma.

            “Saya bersedia membimbingnya hingga bisa berhasil budidaya jenitri ini. Kalau kesulitan soal pemasaran, jangan khawatir. Saya siap membimbingnya,” janji laki-laki ramah ini pada Trans Agro.


Semua Karena Berkat Si Mata Siwa

            Di Jawa, tanaman ini disebut Jenitri. Di Bali, disebut Ganitri. Nah, di Sulawesi, dikenal dengan Sima. Di India disebut Rudraksha, atau  mata Siwa. Konon, ketika Dewa Siwa menangis, air matanya menetes ke bumi, dan tumbuh menjadi tanaman ini.

Buah Jenitri, banyak sekali manfaatnya. Bagi pemeluk agama Hindu, biji ini biasa dipergunakan sebagai sarana untuk peribadatan. Di India sendiri, biji Jenitri dipergunakan untuk membakar jenasah. Tak heran, jika pasaran Jenitri selama ini banyak terserap di India juga Nepal, yang mayoritas warganya beragama Hindu.

            Selain itu, ternyata biji Jenitri juga mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Biji Jenitri dipercaya bisa menyembuhkan epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati. Bisa menjadi pelindung tubuh dari bakteri, kanker, serta pembengkakan.

            Biji Jenitri ternyata bisa untuk menghilangkan stress. Menurut sebuah penelitian, biji Jenitri akan mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung, ketika dipergunakan sebagai kalung. Ia mengatur aktifitas otak yang mengarah pada kesehatan tubuh.

            Efek ini diperoleh lantaran biji Jenitri memiliki sifat kimia dan fisik berupa induksi listrik, kapasitansi listrik, pergerakan listrik dan elektromagnetik. Karena itu, biji Jenitri mempengaruhi sistim otak pusat saat rangsangan bioelektrokimia. Hasilnya, otak merasa tenang dan menghasilkan pikiran positif alias tidak stres.

            Bahkan ada kepercayan, jika menemukan biji Jenitri yang dempet tiga, artinya tiga buah yang menyatu, bisa difungsikan sebagai jimat dan untuk penyembuhan penyakit. Konon, Jenitri dempet ini harganya bisa mencapai 4 juta rupiah. Begitukah?  Ditulis oleh :Sujono


Asumsi modal dan pendapatan budidaya Jenitri per 100 pohon :

  1. A.    Modal :

100 pohon, @ Rp 30.000,-                                              = Rp  3.000.000,-

25 karung pupuk kandang, @ Rp 10.000,-                  = Rp     250.000,-

NPK, obat-obatan, lain-lain                                           = Rp      250.000,- +

                                                                                             Rp   3.500.000,-

 

  1. B.     Hasil :

100 x @ Rp 400.000,-                                                      = Rp 40.000.000,-

 

  1. C.    Keuntungan :

B – A = (Rp 40.000.000 – Rp 3.500.000)                       = Rp 36.500.000,-

 

Ket :

Masa panen dimulai setelah usia 2 tahun dari masa tanam.

Hasil panen perpohon rata-rata Rp 400.000,-

Setiap setahun sekali panen, dengan hasil yang semakin meningkat.


(Artikel ini terselenggara atas kerjasama antara redaksi www.pusatagro.com dengan redaksi tabloid cetak Trans Agro. Untuk mendapatkan berita-berita lengkap mengenai peluang agribisnis aplikatif dan nomor kontak narasumbernya, silahkan dapatkan bundelnya dengan menghubungi nomor 0274-9272270 call / smsCek daftar isi)

Komentar
Tulis komentar anda di sini..
Submit
Daftar Member Gratis
Jumlah post : 1748
Jumlah member : 1641
Facebook
Twitter
News
Beta Testing PusatAgro.com
2012-04-29 17:44:51

Per tanggal 01-12-2011 kami meluncurkan website PusatAgro.com (Beta)

Kami akan mengecek system kami, jika ada bug (error) yang dijumpai silakan kabari kami.



 

Copyright © 2011 PusatAgro.com, All Rights Reserved.